Selamat Tinggal Pagi
Bagiku, senja hari ini begitu indah, mataku terus berbinar setiap kali melihatnya. Hari ini aku berjalan tak tentu arah, entah kemana sebenarnya tujuan hati dan kaki ini berhenti. Gamis serta hijab yang kukenakan saat ini serba putih, melawan warna senja yang kemilau jingga.
Tiba-tiba kakiku berhenti di jalan setapak area pemakaman. Tentu saja rasanya aneh, namun pandanganku tetap mengedar melihat sekeliling. Sepi, hanya ada deretan pemakaman serta satu atau dua toko yang buka untuk menjajakan bunga. Namun ada satu pemandangan yang menarik perhatianku, terlihat seorang laki-laki yang tengah berdiri disalah satu makam.
Hanya diam tanpa ada satu pergerakan sedikitpun. Sepertinya umurnya sekitar delapan belas tahunan setahun lebih tua dariku. Pakaiannya serba hitam, wajahnya menyiratkan kesedihan, namun tak ada air mata yang menetes dari pelupuk matanya seakan sudah kering. Kakiku tergerak untuk menghampirinya, syukur-syukur dapat menghibur.
“Berhenti! Jangan dekati dia!” Teriak seseorang di belakangku. “Kamu dimana?” Tanyaku sambil menoleh kebelakang. “Menunduklah,” titahnya. Saat menunduk aku melihat seekor kucing duduk di hadapanku.
Bulunya seputih salju, matanya tajam, bulu matanya lentik, bola matanya berwarna biru muda kristal, bulu telinganya panjang. Tapi aneh, dia memiliki sembilan ekor dan disetiap ujungnya muncul api kecil berwarna biru menyala seakan seperti mimpi. Aku berjongkok di hadapannya.
“Kamu tadi bicara padaku?” Tunjukku pada diri sendiri. “Benar Meli,” mataku terbelalak, dia tau nama kecilku, batinku. “Siapa namamu?” Tanyaku. “Namaku Zen. Apa kamu mengingatku?”. “Entahlah, kepalaku sedikit sakit untuk mengingat,” ucapku jujur.
“Baiklah kalau begitu lupakan saja ucapanku barusan, bagaimana kalau kita jalan-jalan”. “Kemana?”. “Ketempat yang kamu inginkan.” Dahiku berkerut. Mataku terpejam untuk berpikir sejenak. Saat mataku kembali terbuka Zen, maksutku kucing dihadapanku menampilkan wajah memelas, alhasil aku menyanggupi ajakannya. “Ok ayo berangkat!”serunya.
Kami berjalan beriringan menyusuri jalanan kota yang ramai. Senja masih tampak begitu jelas setelah beberapa menit aku pergi meninggalkan area pemakaman. Berjalan berdua di taman rasanya menyenangkan, apalagi saat kakiku menyentuh rerumputan langsung tanpa alas kaki, ada perasaan bahagia yang menyisip didalamnya.
Kulitku merasakan hembusan angin yang menyejukkan, mataku menyaksikan pemandangan indah. Rasanya semua ini seperi mimpi. Begitu ringan kaki ini melangkah, hatiku bahagia menikmati momen ini.
Entah sudah berapa lama aku terus berjalan hingga tak memperhatikan sekeliling. Di samping kiriku terlihat sebuah ruangan dari rumah sakit umum agak jauh, sih. Dari tempatku, terlihat seorang gadis dirawat didalamnya. Ia berbaring dengan tatapan kosong mengarah keluar jendela dia seumuran denganku, batinku. Hijabnya berwarna biru laut, matanya sayu, bibir serta wajahnya pucat.
Aku bergerak sedikit mendekati jendela ruangannya. Tiba- tiba pintu di ruangan tersebut terbuka menampilkan seorang laki-laki, mungkin kakaknya.
“Siapa disana?” ucap si gadis. Laki-laki tersebut mengambil tangan si gadis dan meletakkanya di wajahnya.
“Kak Pagi!”serunya. “Tebakan benar, nih kakak bawain bunga”. “Udah tau adiknya nggak bisa liat justru dibawain bunga”omelnya.
“Cium dulu dong baunya,” tanganya mengambil buket tersebut dan menciumnya.
“Camelia..”sambil tersenyum. “Gimana?”. “Wangi kak”. Mereka diam beberapa menit, hanyut dalam lamunannya masing-masing.
“Kak, Senja ingin pulang,” ucap Senja mulai bersuara. “Setelah kamu sembuh kita pulang sama-sama ya”.
“Nggak kak, ayo kita pulang sekarang Senja capek disini.” rengeknya lagi.
DEG ! Rasanya familiar, seperti tau seberapa frustasinya.
“Sabar ya dek, kamu pasti sembuh kok setelah itu kita pulang.” Air mataku mulai menetes.
“Tolonglah kak ini permintaan terahir aku. Kankerku sudah setadium akhir, kakiku lumpuh, mataku buta, yang aku pengen cuma pulang kok.” dengan derai air mata.
Air mataku kian deras, sementara pagi sudah memeluk Senja dengan air mata yang terus ia tahan.
“Kak dimana kucingku?”tanya Senja tiba-tiba. Pagi diam, berusaha menyembunyikan sesuatu.
“Dimana kak?” Pagi tetap diam. “Kak Pagi!!”
Pagi menarik nafas dalam setelah itu membisikkan sesuatu di telinga Senja. Seketika tangis Senja semakin menjadi, sementara Pagi mendekap Senja kian erat.
“Zennnnn!”teriak Senja.
Bersamaan dengan itu telingaku berdengun keras, tanganku berusaha keras menyumbat suara tersebut. Mataku terus terpejam karena ucapan Senja meningatkanku pada sesuatu.
Otakku terus berpikir, seandainya saja Senja sempat merasakan apa yang kurasakan hari ini. Tentang indahnya warna bunga, pemandangan yang bagai mimpi, sentuhan rumput yang menggelitik, dan kesejukan angin lalu. Semua kata seandainya terus terulang dalam kepalaku hingga...
“Ini kan?” mataku terbuka dan melihat suasana yang berbeda. Kini aku kembali ke area pemakaman dengan senja yang sama serta laki-laki tadi yang belum beranjak dari tempatnya.
Pergilah... suara bisikan di telingaku. Kakiku perlahan mendekatinya tanpa ada keraguan. Saat sudah dekat aku berhenti di belakangnya. Kuperhatikan makam didepanku, bunga yang bertabur di atasnya masih segar, tanahnya juga masih basah. Sepertinya masih baru, gumamku.
Pandanganku beralih semakin naik. Huh aku ingat sekarang ‘Camelia Senja’ itulah nama yang terukir di sana, namaku sendiri.
Kupeluk laki-laki dihadapanku yang tak lain adalah kak Pagi. “Maafin Senja ya kak udah bikin kak Pagi sedih. Senja cuma pengen pulang dan istirahat. Selamat tinggal kak Pagi.” Gumamku yang tak mungkin tersampaikan.
“Meli, atau harus kupanggil Senja?” aku tersenyum kearah Zen dan menggendongnya. “Terima kasih sudah mau menjemputku dan panggil saja Senja.” ucapku tulus.